Cinta Tanah Air? Yuk
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Nasionalisme di era ini sangat berbeda dengan era
dulu ketika Indonesia belum merdeka. Tidak lagi memegang bamboo runcing dan
melawan penjajah. Tidak lagi berkorban seperti para pahlawan dengan mengorbankan
seluruh harta,nyawa dan keluarga. Namun bukan berarti untuk bernasionalisme
kita tidak perlu berkorban. Pengorbanan perlu untuk dilakukan dengan berkorban
melawan kemalasan, tidak mau kalah, sifat egois dan sifat yang hanya untung di
diri sendiri.
Banyaknya fenomena masyarakat masa kini seperti
maraknya penyelewengan terhadap Negara maupun swasta, kecintaan produk luar
negeri yang berlebihan, dan lebih pro terhadap hal-hal yang berhubungan dengan
Negara lain menyebabkan kita seakan hidup di negara tanpa penghuni. Sudah
semakin banyak penghuni kita, Indonesia melupakan negaranya sendiri. Maka dari
itu sangat penting bagi kita untuk bersikap nasionalisme, untuk berkspresi
nasionalisme dalam berbagai aspek kehidupan.
1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1.
Apa yang dimaksud dengan nasionalisme ?
1.2.2.
Apa penyebab minimnya ekspresi
nasionalisme masa kini ?
1.2.3.
Upaya apa yang dilakukan untuk
meningkatkan nasionalisme pada masa kini
1.3.
Tujuan Penulisan
1.3.1.
Mengetahui pengertian nasionalisme
1.3.2.
Mengetahui penyebab minimnya ekspresi
nasionalisme di era sekarang
1.3.3.
Mengetahui upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan nasionalisme pada masa kini
BAB II
ISI
2.1.
Pengertian nasionalisme
Beberapa ahli nasionalis mengemukakan
arti dari nasionalisme :
·
Ernest Renan, ahli nasionalisme perancis
mengemukakan bahwa nation est le desir d’etre ensemble alias nama lainnya
nasionalisme adalah keinginan untuk hidup bersama
·
Otto Baurer bahwa nasionalisme muncul
karena sama sama bernasib buruk dan mengalami penderitaan akibat kolonialisme
sehingga berjuang bersama-sama untuk menghadapi nasib buruk itu.
·
Hans Kohn (1986), menyatakan bahwa nasionalisme
adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus
diserahkan kepada negara kebangsaan.
Dapat
disimpulkan bahwa nasionalisme adalah wujud kecintaan, kesetiaan seseorang atau
kelompok terhadap Negara, dilatarbelakangi karena adanya perasaan sama dan
merasa senasib.
2.2. Minimnya nasionalisme di masa
kini
Minimnya nasionalisme tergerus oleh perubahan
jaman yaitu masa globalisasi baru-baru ini. Pengaruh globalisasi yang ditandai
dengan mudah masuknya segala macam informasi teknologi seperti barang luar
negeri membuat masyarakat lebih mencintai produk luar. Masyarakat cenderung
berbondong-bondong hanya untuk mengupdate produk berbranded atau gadget dari
luar negeri. Kita tentu tidak asing dengan Coca Cola, Mcdonald, KFC, AW, Starbucks
, karena semuanya sudah tersedia lengkap di Indonesia. Padahal tidak ada salah
satu dari mereka adalah punya Indonesia. Bukan hanya produk saja yang dicintai,
bahkan gaya ala barat menjadi trends anak muda. Pemuda dan pemudi Indonesia mencintai
dan lebih bangga ketika meniru style Harry Potter, Justin bieber, dan One
Direction. Semua hal yang berkaitan dengan mereka , pemuda pemudi Indonesia
berbondong-bondong mengupdate-nya. Masyarakat Indonesia sudah lupa akan identitas
bangsa sendiri karena budaya barat seperti tadi menjadi kiblat dan acuan
kehidupan mereka. Masyarakat lebih mempercayai gaya kehidupan ala barat.
Kenyataan di atas tidak akan bisa
langsung berubah. Apalagi di setiap belahan dunia sudah terpengaruh
globalisasi. Globalisasi inilah awal pengubah sikap masyarakat menjadi anti
Indonesia. Perlu adanya proses yang lama untuk menanamkan pro Indonesia. Contohnya
dulu saat Kaisar Ritsumono Maeji, dimana masyarakat Jepang menutup semua akses
dengan luar negeri hingga puluhan tahun. Alhasil dengan kerja keras
masyarakatnya, masyarakat Jepang telah menghasilkan apapun yang mereka mau.
Mereka tidak perlu susah payah untuk mengikuti atau meniru niru budaya barat.
Mungkin ada kalanya mereka mengambil ide dari negara lain, namun pasti tidak
100%. Alasannya karena, Jepang sudah dari sejak dulu tertanam untuk mencintai
negaranya sendiri, bakti pada negaranya sendiri, termasuk dalam mencintai
produk.
Pengaruh globalisasi memang menjadikan
mudah akses informasi dan komunikasi di belahan dunia. Masyarakat kini bisa
berkenalan terhadap siapa saja yang diinginkan melalaui media internet. Namun,
perilaku masyarakat yang cenderung berkomunikasi lewat dunia maya atau internet
semakin merajalela. Sebagai fakta bahwa pengguna facebook di Indonesia adalah
rangking pertama di dunia. Tentu saja ini bukan hal positif , karena
mengindikasikan bahwa masyarakat kini lebih sibuk memikirkan diri sendiri
daripada berusaha untuk memajukan Indonesia, negaranya sendiri.
Selain globalisasi , selanjutnya ada
separatisme. Separatisme kian marak terjadi di Indonesia. Dahulu ada ketika
sekelompok orang ingin mendirikan DI TII, lalu ada GAM, RMS, Pulau-pulau Indonesia pun ikut gerang
terhadap Indonesia, sehingga pulau dan pulau memutuskan untuk ikut wilayah
Malaysia. Mereka lebih mementingkan mana yang peduli dengan mereka. Faktanya,
perhatian pemerintah Indonesia terhadap pulau-pulau dan wilayah perbatasan
sangatlah minim. Sehingga tidak heran ketika mereka memutuskan untuk bergabung
dengan negara lain. Masyarakat Indonesia seharusnya tidak boleh membiarkan
problematika ini terus menerus terjadi. Jika ini terjadi, lalu di mana letak nasionalisme
masyarakat kini? Para pemerintah seharusnya lebih perhatian,tidak hanya
mengurusi masalah kekuasaan di pemerintahan saja. Masalah tentang kewilayahan sepele
seperti ini akan mempengaruhi keutuhan negara.
Lalu ada primordialisme. Primordialisme
adalah sikap mencintai daerah sendiri atau kebudayaan sendiri yang berlebihan,
dengan memandang rendah kebudayaan/daerah lain. Primordialisme sering dianggap bersifat
primitif, regresif, dan merusak. Bahkan, primordialisme akan menghambat
modernisasi, proses pembangunan dan merusak integrasi nasional. akibat kuatnya
primordialisme akan dapat memicu potensi konflik antara kebudayaan suku-suku
bangsa yang ada. Sikap ini rentan sekali menjadi pemicu pecahnya
keutuhan bangsa.
2.3.
Meningkatkan nasionalisme masa kini
Dengan
berbagai kelemahan yang dimiliki Indonesia, kini kita harus bangkit dan melawan
berbagai tantangan dan rintangan untuk bernasionalisme. Akan mudah dilakukan
karena wujud nasionalisme di era kini bukanlah era seperti jaman dulu yang
ditandai dengan senjata, bom, nuklir, dsb. Kita bukan lagi menghadapi kejamnya
penjajah dan lalu setiap waktu kita dihantui akan kematian yang sia-sian. Tidak
ada penjajahan yang mengharuskan masyarakat semisalnya kerja rodi tanpa
dibayar, bayar pajak, dan bayar hasil panen. Walaupun dalam kenyataannya
Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka, karena masih banyak ditemui
masyarakat Indonesia yang dijajah seperti itu.
Lalu setelah
memahami pengertian nasionalisme, masalah nasionalisme masa kini, apa yang
patut kita lakukan? Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjaga dan
meningkatkan jiwa nasionalisme :
2.3.1.Menjaga
Attitude yang baik
Setinggi apapun derajat seseorang di
masyarakat tidak menentukan seseorang untuk seenak saja hidup tanpa tata karma.
Tata karma harus dipunyai tiap individu, baik dengan berbahasa daerah kepada
yang lebih tua, tidak melawan orang tua, bertutur dengan kata-kata sopan dan
lain sebagainya. Dengan mempertahankan tata karma yang baik sudah termasuk
ekspresi nasionalisme, sesuai dengan para pahlawan dulu lakukan. Jaman sekarang
pun tidak banyak berubah mengenai pentingnya tata karma.
2.3.2.Menghilangkan
sifat kemalasan
Dengan tumbuhnya kemalasan akan
memperlambat orang untuk berusaha sebaik mungkin. Ketika merasa malas, apapun
yang dilakukan akan terasa berat dan tidak maksimal. Hasilpun tidak sesuai
dengan yang diinginkan.
Coba bandingkan
dengan Anak-anak di perbatasan. Mereka tak kenal malas dan lelah. Walaupun
jarak antara tempat tinggal dengan sekolah di Indonesia relative jauh
dibandingkan dengan jarak ke negeri tetangga, anak-anak sangat antusias sekali
untuk bersekolah. Berbagai hambatan seperti jembatan kecil, jalanan hingga
puluhan kilometer, maupun derasnya sungai mereka lalui untuk bersekolah, untuk
mewujudkan cita-cita besar mereka.
Gambar
:
Terlihat
jiwa nasionalisme anak-anak untuk bersekolah di Indonesia, untuk mewujudkan
cita-cita besar mereka
2.3.3.
Saling berbagi ilmu
Mudahnya akses
komunikasi di seluruh dunia membuat sebagian orang tertentu ikut merasakan
sulitnya hidup di pedalaman.Misalnya para guru atau tenaga pengajar dengan
sukarelawan mengajar di pelosok desa tidak menuntut banyak gaji. Mereka lebih memikirkan
nasib masa depan murid murid mereka. Hal ini sangat berkaitan erat terhadap
nasib masa depan bangsa.
Kita
tahu bahwa Indonesia ada di tangan para generasi sekarang, yaitu pemuda dan
pemudinya. Seseorang dikatakan bernasionalisme juga ketika tidak sungkan membagikan
ilmu yang didapat kepada sesama. Akan menjadi bagaimana Indonesia nantinya
tergantung dari apa yang dilakukan para pemuda dan pemudi. Baik semua guru, pengajar,dosen, masyarakat
umum yang ikut berbagi ilmu kepada masyarakat indonesia memiliki jiwa
nasionalisme. Mereka menuangkan wujud ekspresi nasionalismenya dalam bidang
mencerdaskan kehidupan bangsa.
2.3.4. Berprestasi dan
mewujudkan cita-cita yang tinggi
Sebagai penerus
bangsa, kita tidak perlu bingung untuk berjiwa nasionalisme. Banyaknya prestasi
yang dihasilkan hingga membawa nama baik Indonesia ke mancanegara sangat cukup
dalam arti nasionalisme. Seperti baru-baru ini dikutip pada detiknews tanggal 2
juli 2014, 35 pelajar dari berbagai daerah membawa nama baik Indonesia dalam
ajang Olimpiade Internasional seperti Biologi, Kimia, Fisika, Astronomi, dll. Masyarakat
kini lebih mudah berekspresi nasionalisme dengan berprestasi.
2.3.5.
Mencintai produk dalam negeri
Sudah banyak sekali produk luar negeri
tersebar di seluruh Indonesia. KFC, AW, McDonald, Starbucks dan lain
sebagainya. Tidak hanya produk original luar negeri yang eksis di Indonesia,
bahkan untuk rumput laut saja di Indonesia berasal dari olahan pihak luar
negeri. Padahal, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahwa
data produksi budi daya rumput laut Indonesia 2013 mencapai 8,2 juta ton dan populasi
rumput laut di Indonesia menempatkan posisi dua di dunia. Sedangkan masyarakat
Indonesia apakah sudah maksimalkan produk dalam negerinya sendiri? Tidak .
Masih banyak masyarakat yang kurang
mahir dalam mengolahnya, misalnya kita sering melihat rumput laut hanya menjadi
cincau es di pinggir pinggir jalan yang dijual sebesar 5000 rupiah.
2.3.6.
Ikut melestarikan ragam budaya Indonesia
Indonesia adalah
negara kepulauan yang memiliki belasan puluh ribu pulau. Setiap pulau terdiri
dari banyak wilayah dan lalu dikelompokkan lagi hingga yang paling kecil adalah
desa. Tentunya, tiap komponen itu memiliki beragam budaya. Bisa saja antara budaya
satu dari wilayah X hampir sama dengan wilayah Y, namun semuanya pasti memiliki
ciri khas tertentu.
Banyaknya budaya
Indonesia membuat setiap masyarakat sulit untuk mempelajari semuanya. Namun
setidaknya, kita berusaha untuk mengetahui lebih banyak mengenai budaya
Indonesia, bisa berawal dari budaya daerah masing masing tinggal. Dengan begitu
diharapkan eksistensi budaya Indonesia bisa tetap dikenal pada cucu cucu
generasi yang akan datang.
2.3.7
Turut serta dalam menjaga lingkungan
Tidak banyak orang sadari bahwa menjaga
lingkungan masuk dalam upaya untuk meningkatkan nasionalisme. Padahal jika
ditengok kembali, definisi dari nasionalisme adalah cinta tanah air. Tentu bagi
seseorang yang cinta akan sesuatu tidak akan pernah membuat sesuatu itu rusak.
Sama halnya dengan Indonesia. Ketika ada rasa nasionalisme, mencinta tanah air
Indonesia, raga dan semangat untuk menjaga dan melestarikannya pun harus
ada. Misalnya, apakah tindakan membuang
sampah di sungai termasuk dalam kategori “Cinta tanah air”? Jawabannya sudah
jelas tidak. Jika masyarakat acuh akan lingkungan dengan kata lain membuat
lingkungan menjadi kotor, sama saja dengan merusak alam Indonesia. Akan banyak
dampak yang terjadi ketika kita sebagai masyarakat acuh terhadap lingkungan.
Pertama adalah kesehatan, kedua adalah menjadi penyebab bencana, dan pada
akhirnya akan mengurangi kadar produktifitas kegiatan masyarakat. Misalnya
ketika terjadi banjir, semua lapisan masyarakat akan terkena dampaknya, baik
pedagang, petani, mahasiswa, dan lain-lain.
BAB III
Simpulan
Nasionalisme adalah bentuk kecintaan warga
dalam suatu negara terhadap negaranya.
Bukan seperti pahlawan dulu bertaruh nyawa untuk menjaga Indonesia, namun
kini saatnya bertaruh pada diri sendiri dan bahkan berhadapan dengan dunia.
Kita bukan hanya melakukan hal-hal baik dari diri sendiri, namun hal-hal yang
dampaknya berpengaruh pada kelangsungan hidup negara. Seperti dengan merawat
dan menjaga lingkungan sekitar kita.
Namun
seiring berjalannnya waktu, Indonesia dihadapi tantangan yang begitu rumit.
Masyarakat kini kian tergerus oleh perubahan globalisasi. Masyarakat mudah saja
terpengaruh dengan budaya luar. Ketertarikan masyarakat bukan membuat
termotivasi untuk mencontoh canggihnya luar negeri. Masyarakat semakin tertarik
dan menjadi konsumtif terhadap luar negeri .
Setiap
masalah-masalah itu mempunyai solusi. Masyarakat bisa mengurangi permasalahan
itu dengan melakukan hal-hal positif. Ada banyak wujud ekspresi nasionalisme
masa kini. Misalnya, mengikuti dan memahami pendidikan kewarganegaraan, aktif
dalam menyalurkan hobi seni baik seni daerah maupun nasional, dan rajin
berprestasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hernawandi, Futria. 2014. Aksi nasionalisme masa kini,[online] , (http://futriagpgn.blogspot.com/2014/04/aksi-nasionalisme-masa-kini.html
, diakses tanggal 16 September 2014)
Su’udiah,
Firdaus. 2012.Nasionalisme di masa Orde lama, Orde Baru, dan Reformasi.
[online] , (http://phierda.wordpress.com/2012/11/03/nasionalisme-di-masa-orde-lama-orde-baru-reformasi/
, diakses tanggal 17 September 2014 )
Huki,
Luci. 2013. Pengertian Primordialisme {online} , http://blog-pelajaransekolah.blogspot.com/2013/06/pengertian-primordialisme.html
, diakses tanggal 20 September 2014 )
Comments
Post a Comment